Panggung Sandiwara

Sebastian (Ryan Gosling) & Mia (Emma Stone) in La La Land (2016) dir. Damien Chazelle

Sayup hingar-bingar obrolan menyeruak melalui celah kecil pintu kayu yang terbuka hingga sampai ke telingaku. Mereka hanya terdengar bagai gemuruh samar, walaupun aura suka cita di dalamnya dapat dengan mudah dirasakan. Makan malam sebelum pentas perdana selalu menyenangkan. Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, meresapi keadaan keramat menjelang detik-detik pertunjukkan. Sendirian di deretan kursi penonton sebuah teater megah yang gelap dengan panggung kosong. Satu-satunya cahaya hanya menyorot panggung kosong yang sakral, yang sebentar lagi menghadirkan para aktor kesurupan peran.

Kursi-kursi dan meja yang bergeming di atas panggung bahkan nampak bagai tengah bercerita, membawaku ke tempat-tempat jauh dan waktu-waktu lampau. Bahkan sebelum pementasan dimulai, ruangnya telah lebih dulu berkisah. Sejam-dua sebelum pertunjukkan merupakan saat-saat paling menenangkan sekaligus menegangkan, seperti kencan pertama dengan orang yang telah kamu cintai begitu lama.

Aku bangkit dari deretan kursi penonton, perlahan menuruni tangga mendekati panggung. Belum pula tiba di anak tangga terbawah, seorang lelaki berjalan tenang dari sayap menuju tengah panggung. Kehadirannya membuatku terhenti dan diam memperhatikan. Tubuh tegap yang kukenali setiap lekuknya, rambut hitam tebal berantakan yang jari-jariku telah akrabi tiap helainya.

Tanpa menyadari keberadaanku, Ia berdiri tegak di tengah panggung dengan mata terpejam dan napasnya teratur panjang-panjang. Semenit-dua, jemarinya mulai bergerak-gerak santai. Lengan dan tungkai-tungkai kakinya menggeliat, kepalanya menggeleng dan berputar, bahu dan pinggulnya meliuk-liuk. Gerakannya seperti tarian orang gila. Kacau namun indah dan penuh rasa. Tak aturan namun memaksa mata menatapnya lama-lama. Aku mendengus pelan, bahkan diam saja pun sudah pasti kutatap dia hingga berjam-jam dengan sukarela. Ia masih penuh gairah dan dedikasi, seakan-akan setiap pertunjukkan adalah yang pertama baginya.

Beberapa belas menit ia memanaskan tubuhnya sebelum akhirnya duduk bersila, memejamkan mata dan mengatur napas. Aku melanjutkan menuruni sisa anak tangga hingga tiba di kaki panggung, menunggunya membuka mata. Kaus abu-abunya sudah agak basah oleh keringat, itu sebabnya ia menolak dirias dan memakai kostum hingga saat-saat paling terakhir. Rahang dan dagunya tampak bewarna kehijauan bekas dicukur.

Ia membuka matanya. Sepasang mata coklat hangat itu langsung bertabrakan dengan mataku. Ia tersenyum, “Kamu cantik memakai kebaya.”

“Kamu lebih ganteng jika tidak pakai apa-apa.”

Ia tergelak. Tawanya yang renyah tanpa terbata-bata, “Aku serius!”

Aku berusaha menaiki panggung  sementara kain yang melilit perutku kuat-kuat hingga ke mata kaki menolak bekerja sama. Ia tertawa lagi, aku menyerah dan memilih naik lewat tangga di sayap kanan panggung.

"Siapa juga yang punya ide agar kru memakai kebaya." Aku menggerutu, duduk di sampingnya dengan payah.

"Hey, sudah kubilang, kamu terlihat cantik pakai itu. Para penonton bakal lebih suka memelototi sang pimpinan produksi daripada menonton pertunjukkannya jika melihatmu begini."

"Taruhan, aku bakal tetap tampak menakjubkan dalam balutan kaus panitia dan jeans."

Tawa itu lagi. Kepalanya menghempas, gelaknya lepas. Persis bocah kecil yang tengah menonton kartun minggu pagi.

"Ya. Itu aku setuju." Katanya disela-sela tawa.

Kami terdiam. Hening percakapan hanya diisi gumam-gumam kru dan pemain lain yang tengah menyelesaikan persiapan akhir.

"Mereka tidak menyeretmu ke ruang rias sekarang?" Tanyaku.

"Sebentar lagi, pasti. Tapi toh, mereka tahu aku tak pernah kabur dari sini." Ia tersenyum geli, pandangannya menyapu deretan kosong kursi penonton, "Tak akan pernah."

Ia mengalihkan pandangannya padaku. Menatapku lekat, “Jadi kenapa kamu menolak main di produksi ini?”

“Aku malas begitu tahu kamu akan jadi peran utamanya.” ucapku sekenanya.
Ia menyenggol bahuku pelan dengan lengan atanya, lantas tidak menarik tubuhnya lagi. Kami bersandaran satu sama lain. Kepalaku perlahan rebah di bahunya.

"Satu hal tentang panggung. Kita selalu jatuh cinta, baik di atas maupun di belakangnya."

Ia menyisiri rambutku dengan jari-jarinya, “Dan jatuh cinta yang lebih mudah, ya?”

“Kecuali jika tidak peka dan tidak berbakat.” cetusku

Ia tertawa lagi. Tidak seceria tadi, kali ini terdengar kering dan satir. Jari-jarinya masih menelusuri kulit kepalaku dengan lembut. Baru kali ini aku ingin waktu berhenti dan pementasan tak usah dimulai.
“Aku harap kamu main di drama ini. Jadi kita bisa jatuh cinta satu sama lain lagi.” bisiknya.

“Ah, kita selalu jatuh cinta satu sama lain, kan?”

“Tapi di panggung ini, kita bisa bersama.”

“Nah, betapa beruntungnya kita karena panggung bukan hanya satu ini saja.” aku bangun dari bahunya, merengkuh kepalanya kemudian mengarahkan wajahnya pada wajahku, “Ada berapa banyak cerita yang bisa kita jadikan nyata di atas pentas. Ada berapa kesempatan bagi kita untuk bersama. Untuk  jatuh cinta seperti pertama. Ada berapa banyak akhir bahagia.”

Bibirnya yang kemerahan tersungging tipis. Senyum yang mencapai matanya, yang lebih hangat dari secangkir coklat panas.  Didekatkannya bibir itu pada bibirku. Rasa akrab memenuhi mulut dan nadi-nadiku. Lebih manis daripada secangkir coklat panas.

“Jangan lakukan itu lagi diluar pentas.” aku berkata, “Takdir pasti tidak suka, lalu mengganggu.”

“Takdir betul-betul tega jika berani mengutuk kita dua kali.” Katanya.

Betul saja, takdir datang tiba-tiba dalam sosok penata rias kalang kabut yang mencak-mencak. Penata rias itu kemudian menyeret dia yang masih sempat-sempatnya mengedipkan sebelah mata padaku.

Kesibukkan yang terasa sempat terhenti mengalir lagi. Penonton mulai berdatangan, bergumam-gumam antusias menunggu pertunjukkan di tempat duduk mereka. Tepat pukul jam delapan malam, semua pintu masuk menuju teater tertutup rapat. Suara-suara Ruangan mulai melirih dan seluruh lampu mulai dipadamkan lagi. Penonton berhenti berbisik-bisik, berpasang mata tertumbuk pada panggung. Aku bersandar di deretan paling belakang, menahan napas.

Panggung mulai tersorot lampu. Sesosok lelaki muncul. Karakter fiksi yang baru saja dihidupkan lewat tubuh yang sangat kukenal hingga ke jengkal-jengkalnya. 

Aku jatuh cinta lagi, seperti pertama kali.

0 komentar:

Post a Comment