Muak



From Adventure Time S4, Eps 16: Burning Low

Aku muak pada puisi cinta.
Semua orang yang (katanya) punya hati pernah mengaku hati mereka dicuri, kemudian berlomba-lomba membahasakan cinta. Cinta yang dipuja-puja lalu pada detik berikutnya dihina-hina. Diagung-agungkan untuk selanjutnya disalah-salahkan. Anak kemarin sore berani teriak cinta mati, atau patah hati lalu bunuh diri.
Entah cinta yang mahsyur ini sebuah penyakit atau sejenis candu, pun manusia mungkin memang makhluk penikmat luka. 

Aku muak membahasakan cinta.
Tidak ada lagi yang istimewa tentangnya. Dari sepuluh lagu yang sering diputar di radio, seluruhnya bicara cinta. Padahal ada masalah yang menyangkut hidup dan mati, masih ramai meributkan isi hati.
Diamlah! Tidak peduli juga aku soal selingkuhan kekasihmu atau hubungan tanpa restu! Sinetron picisan yang berjamur di televisi itu tidak ada bedanya dengan kisahmu.
 


Aku muak padamu.
Alasan aku latah menulis soal cinta juga ulahmu. Tanpa kamu, aku tidak mungkin menyanyikan lagu-lagu sendu di bawah hujan, atau menyerang semesta dengan ratusan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan bodoh sekelas remaja yang baru pertama dipanah asmara.
Aku kurang cantik, ya?
Aku tidak memikat, ya?
Obrolanku tidak menarik, ya?
Aku tidak bisa memasak! Oh, bukankah ia suka wanita keibuan? Bagaimana ini!
Aku jarang tersenyum! Oh, bukankah ia suka perempuan manis? Tidak mungkin ia suka padaku!
 


Aku muak padaku.
Mulai kubahasakan rasa padamu, lantas mengutuk perasaan itu. Murka pada diri karena jatuh cinta sendiri. Mulai berangan-angan tentang rasa bibirmu, suara langkahmu, serta segenap hal diantaranya.
Berandai-andai jika kita jatuh cinta berdua, lalu apa aku masih geram jua? Atau akan kucium telapak Afrodit kemudian jadi budaknya yang paling setia?
 


Aku muak pada Sang Dewi.
Bisa jadi ia hanya senang saja melihat aku mengira-ngira apa yang salah sambil sadar telah kalah. Girang pula melihat kamu dan dia saling sayang tapi hanya bisa bercumbu lewat sembahyang.
Kesukaannya merancang skenario paling tragis sekaligus magis, memegang kendali atas perkara yang diluar kuasa kita.
 


Setelah semua fantasi dan kenyataan terjadi,
Semua rasa yang kubahasakan dalam puisi,
Aku paling muak pada puisi ini.


Xo-N 

Bandung, 1 April 2016

0 komentar:

Post a Comment