Malam Purnama

"NYAI ANTEH SANG PENUNGGU BULAN" UNOFFICIAL SPIN-OFF



Untuk setiap harapan yang terkabul, ada harga yang harus dibayar. 

Purnama yang entah keberapa kali sejak Anteh dibawa pergi ke Singgasana Malam. Siapapun pasti takjub akan pesona Rembulan yang berpendar keperakkan, merajai pekat langit diantara gemintang sekarat yang tak hentinya redup-nyala. Disini, di tubuh Pemilik Malam sendiri, keindahannya bahkan lebih memukau. Sebab bukan tanah yang dipijak, melainkan butiran pasir kemilau.

Jika bisa, Anteh ingin kirana tetap tinggal dan purnama tetap kekal. Tapi ia takut Jagat Raya mengira ia adalah wanita yang tak tahu diuntung, atau malah malah mengabulkan lagi permohonannya, kemudian ia harus menerima konsekuensi dari permintaan baru itu.

Purnama adalah satu-satunya waktu dimana Anteh dapat melupakan mereka yang ia cintai. Ia pikir, mungkin cinta yang seharusnya pergi dari hati. Lapisan rindu sudah berubah kerak sehingga kadang ia ingin hatinya mati. Berhenti merasa. Berhenti mendamba.

Berkali-kali, saat wajah Rembulan bersembunyi dari tatapan manusia-manusia pemuja keindahan, Anteh mencoba pulang. Sebuah tangga kain yang berhari-hari ia tenun dengan keinginan menemui kembali saudari tersayang. Diam-diam, ia menenun dengan sepercik angan-angan untuk kembali menikmati lara kasih terlarang. Tentu saja tak pernah berhasil tangga itu terselesaikan, karena Cendramawat terus-menerus mencakar habis tenunan itu hingga berakhir jadi tumpukan kusut benang.

Ah, mungkin Si Kucing Kesayangan perlu mainan. Mungkin pula kucing itu lebih pintar darinya karena tidak bias oleh perasaan. Bisa jadi malah Semesta yang menyuruhnya berlaku demikian.

Anteh, bukankah kau pula yang berharap meninggalkan kelam? Kini kau juga yang jatuh muram saat bulan temaram?

Jauh dibawah sana, Pangeran Anantakusuma menatapi purnama. Dicarinya bayangan seorang wanita yang dicinta serta kucingnya yang tiga warna. Mula-mula ia salahkan diri sebagai penyebab dari perginya belahan hati. Kemudian ia salahkan Takdir atas rancangannya yang membikin pertemuan antara pujaan dan dirinya dalam keadaan serba salah. Akhirnya, ia selalu menyalahkan cinta yang maha lihai dalam menembus segala pertahanan.

Putri Endahwarni juga sedang menyalahkan cinta. Terombang-ambing antara cinta pada suami dan saudari. Sebab apalah salah mereka berdua saat jatuh cinta satu sama lain? Tidak pernah ada yang bermaksud untuk jatuh. Maka dari itu iya dinamakan jatuh, karena terjadi tanpa rencana. Seperti butir-butir air matanya yang jatuh, mengalir sendu di pipinya. Dalam hidupnya, ia selalu dimanja oleh kelimpahan dan diberkahi kecantikkan. Satu-satunya yang tidak ia dapatkan justru adalah cinta.
Beratus-ratus kata maaf ia kirimkan pada Rembulan, untuk Sang Saudari di tempat tinggal baru. Ia cemburu sekaligus rindu. Kedua cintanya harus direnggut dari sisinya karena rasa cinta itu sendiri. 


Mengapa bukan cinta saja yang lenyap? Agar derita gugur kemudian senyap?

Anteh menatap bumi, mengetahui bahwa mereka yang terkasih pun tengah menatapnya. Cendramawat bergelung manja di kakinya. Peliharaan manis yang setia. Teman yang boleh dibawanya melewati sepi, karena kucingnya itu mengerti tanpa menghakimi. Tanpa melibatkan rasa-rasa pribadi.

Tentu pernah bertanya Anteh pada Semesta, mengapa ia dibiarkan jauh dari mereka yang paling ia cintai. Tak bisakah Semesta memilihkan satu saja untuk Anteh, sebab ia sendiri tak kuasa menentukan. Namun ternyata, ada alasan mengapa doa buruk tak diluluskan, karena seringkali mementingkan diri sendiri. Ada alasan mengapa harapan untuk sepenuhnya lupa tidak pernah terkabul sebab penyesalan serupa akan kembali bersemi. Tapi tetap saja ada cinta yang tak sampai dan ada cinta yang terpaksa usai. 

Lalu apa arti cinta-cinta itu? Apa pula arti pengorbananmu, Anteh, berusaha membunuh cinta pada Sang Pangeran demi kesetiaan dan kasih sayang pada Sang Putri?

Kamu sudah memilih, maka terkabulah pengharapanmu.

Dibalik gelisah ia tahu terkabulnya sebuah harapan adalah anugerah. Tak ada seorang manusia pun yang diizinkan lari dari rasa yang harus dihadapi, kemudian dibiarkan bersembunyi di Kerajaan Malam. Betapa Rembulan adalah tempat terbaik untuk mengubur perasaan, karena tak ada yang akan lebih paham daripada Ratu Malam tentang apa yang bersembunyi dalam batin.  

Anteh perlahan mengerti mengapa cinta tidak mati, melainkan tinggal untuk direlakan dan kemudian terganti. Apalah guna hati jika bukan untuk mengalami. Suatu ketika akan tiba pengertian pada kedua orang terkasihnya, yang kini masih saja bertanya-tanya pada purnama. Jawaban-jawaban itu sudah tersedia dalam diri, hanya diperlukan sebuah ketulusan untuk sebuah jawaban supaya menguak ke permukaan. 

Ah, rindu. Bukankah ia tumbuh dari cinta? Tak pernah ada yang sanggup menahannya sehingga pada kesukarelaan sekalipun, rindu menyelinap diam-diam. 

Kala bulan mati, Anteh sesekali tetap menenun tangga, walaupun tahu Cendramawat akan merusaknya bahkan sebelum ia rampung separuhnya.

**



CATATAN:
"Nyai Anteh Sang Penunggu Bulan" adalah sebuah cerita rakyat yang berasal dari Jawa Barat. Kisah ini merupakan salah satu cerita rakyat kesukaan saya, sehingga lahirlah cerpen sempalan ini. Dalam banyak versi, dikisahkan Nyai Anteh telah menikah dan memiliki dua orang anak bersama pria lain (tidak jatuh cinta pada Pangeran Anantakusuma). Cerita aslinya dapat ditemukan di berbagai sumber di Internet dalam versi berbeda-beda.

*Ilustrasi oleh penulis

0 komentar:

Post a Comment