Kisah Rembulan


Penghujung tahun ini mungkin akan berbeda dengan tahun-tahun kemarin. Alih-alih merangkum cerita duabelas bulan dalam bentuk cerita pendek, kumpulan puisi, atau metafora, aku hanya akan bercerita tentang Rembulan. Kisah tentang Rembulan sudah cukup untuk menyatukan semua kisah yang terjadi di tahun ini. Dia yang menjadi sebuah portal antara aku yang lama dan aku yang kini. Dia yang lucunya, hadir saat tahun ini telah berjalan tepat separuhnya.

Jika kamu mengenalku cukup lama, mungkin kamu tahu, bahwa aku belum pernah jatuh sejatuh-jatuhnya cinta kecuali pada seni peran dan lakon. Berpura-pura jadi putri kerajaan hingga penyhir jahat waktu masih gadis kecil, kemudian mengerak di unit teater hingga jadi dewasa muda. Saat itu pertengahan April, sudah jarang sekali aku berlatih. Sejak melepas sebuah peran yang cukup kutunggu-tunggu (ceritanya panjang dan tidak menyenangkan), aku terlalu rindu rasa panggung dibawah kaki serta sorot berpasang-pasang mata dan lampu di kulitku inci demi inci. Namun tak ada waktu untuk bahkan sandiwara sederhana, aku terlalu sibuk berusaha mendobrak gerbang tugas akhir, juga terlalu repot membenahi remah-remah kekacauan tahun kemarin.

Rasanya melelahkan lagi sesuatu yang berarti, tidak pula aku hasilkan.


“Pernahkah.... Kamu berlari dalam gelap? Bergerak sekuat tenaga, hingga terlelah dan tersadar, bahwa kamu tidak sedang berpindah?” – Bocah Tanpa Nama

Ditengah gulita itulah, Merchant of Emotion memberiku sebuah kesempatan. Kesempatan itu kukira hanya akan melambai padaku, lalu tanpa disangka malah menjabat tanganku. Ya, nyaris sekali kuurungkan niat mengirimkan aplikasi untuk open casting yang diadakan MoE saat itu. Tapi, bukankah mimpi-mimpi yang serupa pada akhirnya akan bersama untuk berubah jadi nyata? Saat itu, MoE memperkenankanku mengobati rindu, dan aku membantu mereka menyampaikan sebuah cerita dalam bentuk yang paling kusukai: pertunjukkan. Sebuah pertunjukkan dramatic reading yang dekat sekali dengan kehidupan kita, berjudul "Semasa: Dawn of Sunset".

Cerita yang pernah naik panggung di bulan Januari ini berkisah tentang seorang anak laki-laki pertama di dunia. Ia sendirian, ketakutan, tidak tahu apa-apa, bahkan nama pun tak punya (walaupun nanti akan kita panggil dia Senja). Agar ia belajar, Sang Pencipta mempertemukannya dengan Mentari. Dia yang ceria, cantik, dan hangat. Mentari adalah cahaya kehidupan yang darinya, Senja mengenal rasa senang dan suka, juga menyunggingkan senyum pertama.

Namun bukan pelajaran namanya jika Senja hanya mengenal separuh dari apa yang menjadikan hidup utuh. Karena itu, Sang Pencipta mengirimi ia malam serta penguasanya, Rembulan. Pemilik Malam ini yang bertugas mengajarkan segala macam cobaan dan masalah hidup, mengenalkan Senja pada kesakitan, kesedihan, dan amarah.

Itulah saat aku bertemu dengan Rembulan.
 
Berhadapan dengan Rembulan terasa nyaris seperti bercermin. Rambutnya kusut panjang, kulitnya putih pucat, senyumnya lebar. Ia... menakutkan. Selama ini orang selalu bilang tampangku menyeramkan dan aku tak pernah paham apa maksudnya sampai aku bertemu Rembulan. Beberapa hari berikutnya kuhabiskan untuk mengamati meniru perilakunya. Caranya tertawa dan melangkah, lirikannya yang setajam ujung sabit dan suaranya yang membuat orang mengernyit. Setelah itu, aku mulai berbincang dengannya, mendengarkannya. Lalu aku sadar, betapa pun fitur fisik kami serupa, tetap saja kami tak sama.


“Tapi percayalah, keberadaanku bukan tanpa alasan. Aku yang akan membuat kalian jauh lebih kuat. Sekalipun jiwa dan raga kalian terpental beratus-ratus kali banyaknya. Benci. Dengki. Amarah. Hanya akan tercipta jika tak ada hasrat sedikit pun bagi kalian untuk berkawan denganku.” –Rembulan 

Rembulan, seperti penampilannya, memang dingin dan keras. Mengerikan dan tak peduli berapa liter air mata yang kamu tangiskan, berapa galon darah yang keluar dari lukamu. Ia hanya akan menertawakan dan menghinamu karena menjadi lemah dihajar musibah. Ia mencaci peluh dan keluhmu.

Rembulan adalah dompetmu yang kosong. Pacarmu yang selingkuh. Tugas kuliah yang tidak selesai-selesai. Harga beras yang naik. Surat penolakkan masuk universitas favorit. Surat PHK. Bos yang menjengkelkan. Orang-orang yang membencimu. Anggota keluargamu yang meninggal dunia. Pertengkaran dengan sahabatmu. IPK yang jelek. Mobil yang mogok saat terlambat ujian. Nilai rupiah yang anjlok. Gempa bumi. Kebakaran. Banjir.

Tapi Rembulan bukan malaikat maut yang ingin membunuhmu, ia ingin kamu tertawa bersamanya. Karena saat kau menang, tugasnya selesai dan ia bisa menciptakan momok lain. Terus begitu sampai kau lulus semuanya, atau setidaknya, sampai kau berdamai dengannya.

Saat kau memutuskan untuk menjadikannya musuh, kamu berubah getir dan menyedihkan. Kamu hancur perlahan-lahan.

Upayaku untuk menghidupkan Rembulan dan menghadirkannya lewat diriku memang tidak mudah. Tapi dalam penjelajahannya, aku belajar banyak sekali hal. Jika Sang Pencipta mengirimkan Mentari dan Rembulan pada Senja, mungkin Dia mengirimkan (salah satunya) teman-teman baru yang juga ikut berjuang dalam memberi nyawa pada Semasa.  Dengan mereka aku berdiskusi mendalam sampai merenung tidak peduli betapa larutnya malam. Dengan mereka pula aku tertawa, berbagi cita-cita, serta bercanda. Mungkin itu yang dirasakan Senja saat bermain kejar-kejaran dengan Mentari.

Sebagian orang akan menganggap aku terjebak di bulan Juni dengan segala kenangan manisnya, padahal yang lain telah menutup tirai juga merapikan panggung. Aku bukan terjebak. Aku merasa detik-detik yang kuhabiskan untuk mengenal Rembulan saat itu, telah memperbaikiku dan aku bukan lagi orang yang sama.

Kini aku belajar berdamai dengan Rembulan. Semoga kita dapat bertahan dari semua yang ia lemparkan tahun depan (dan tahun-tahun selanjutnya). Bukankah pesta baru saja dimulai?


“Seluruh peluh yang meluruh memang akan menempamu tanpa menunggu persetujuanmu. Dan dalam perjalanan itu akan kautemukan dirimu, arti hadirmu yang ternyata sedang duduk manis di atas tandu jiwamu! Lalu kau akan temukan tawa yang pantas untukmu, tangis yang berarti banyak untuk batinmu. Lantas mengapa kau harus bersikap begitu pilu?” –Mentari





“Semua orang bisa bermimpi. Kalau tidur pun, kita sering mendapat mimpi. Tapi cuma orang-orang pemberani yang menetapkan impian, dan yang paling pemberani diantara semua akan mencoba mewujudkannya.” 

- Kutipan terakhir ini adalah milikku sendiri. Sebab seperti pencapaian-pencapaian yang lain, Semasa juga lahir dari keberanian berimpian. Entah berhasil gemilang atau biasa saja, Semasa pernah menjadi realita. Setidaknya bagi kita yang telah bekerja keras mewujudkannya. Mulai sekarang tidak boleh takut lagi menetapkan impian (dan berusaha menghidupkannya) dan semoga orang-orang lain pun begitu.

Jangan lupa, Rembulan akan selalu hadir. Cobalah untuk berdamai dengannya. 



**
Dokumentasi diambil oleh Johanes Mario Adriano



0 komentar:

Post a Comment