Penawar Lupa



Photographed by Rewinda Omar

Hai, 

Seringkali kita lupa bahwa putra termuda langit dan bumi, sekalipun lelap dalam tidurnya, tidak pernah mangkir menggerakan jarum-jarum tipis diantara satu hingga dua belas berulang-ulang. Bahkan dalam pengulangannya, tak pernah ada yang kembali ke awal mula, namun terus maju hingga akhir dunia. 

Seperti kita. Berjalan menuju senja setiap detiknya, walaupun dengan begitu perlahan. Kelambatan yang kita lupakan sampai suatu kali duduk diam dan sadar bahwa memori yang menahun terasa sesegar cerita kemarin. 

Karena kita sering lupa, aku tidak mau melanjutkan sebelum minta maaf dan ucap selamat. Maaf karena tidak ada barisan-barisan kalimat perayaan yang selalu aku tulis tujuh hari sebelum kita mengganti angka di ujung umur tahun lalu. Ingatkah kau saat itu kita sibuk membentuk kembali puing-puing diri, menambal ulang retakan dengan pecahan-pecahan. Kala itu, kita nyaris habis tergilas luka. Dan tentu saja saat itu kita lupa. Lupa kalau bahkan ditengah kubangan air mata dan darah sendiri, langit belum ikut robek dan oksigen belum ikut hampa. Tungkai-tungkai kita belum patah, dan kepala kita masih bisa tengadah. 

Jadi, sekarang kuucap selamat. Selamat untukmu! Selamat untuk kita! Diantara terbit dan dengkur mentari serta percakapan panjang dengan rembulan, kita berhasil untuk sekali lagi menjadi utuh, membangun kembali yang runtuh. Dan kita sekali lagi disini, mengejutkan semesta (tidak juga, mungkin ia tidak sadar. Ia begitu dingin dan agung, lalu kita hanya kotoran ujung kukunya) akan kemampuan kita mereparasi .

Dan kini saat aku sudah menyampaikan hal-hal yang mungkin dilupa, mari kulanjutkan:


     Tentang Perjuangan

Apakah artinya kita sudah sampai di garis akhir? Tentu tidak. Dunia lebih mirip ibu tiri daripada ibu peri. Kita juga masih manusia biasa, belum malaikat apalagi dewi. Jalan yang kita telusuri tidak ada yang mengaspal, masih beurundak-undak serta terjal. Hanya saja setelah kemarin dulu megap-megap di genangan air mata, kita semakin pandai berenang. Kalau-kalau ada kolam duka yang lebih dalam, tak kenal lagi kita tenggelam.


     Tentang Pelajaran

Lalu lubang-lubang yang menyandung kita dalam masa berkabung, tutuplah dulu. Jangan sampai saat suatu hari kita menghampiri, jatuh lagi kita dalam gemuruh kemudian hanya bisa mengaduh. Cari pisau lain untuk menyayat kulit. Kali ini coba golok, parang, atau arit. Jangan mau digulung ombak yang sama, jangan menolak dibantai badai yang baru.


     Tentang Jatuh Cinta

Disini, jika jadi tumpul akal dan sehat pikiran, mungkin kita akan terjun bebas tanpa pegangan. Kita tidak dan (mungkin) tidak akan pernah paham bagaimana sepasang mata ini lebih buta daripada Eros. Tidak tahu kapan ia menyelinap untuk membidik anak-anak panah yang selalu lolos dari upaya kita untuk mencegah, kemudian tahu-tahu berhasil menancap di lubuk hati saat pertahanan melengah. Tapi aku sekali lagi bangga padamu. Pada kita. Tidak pernah sekalipun kita jatuh saat tidak merasa utuh. Saat kau mencicip anggur asmara, itu bukan karena kita merasa perlu diisi atau bosan sendiri. Saat-saat kita terjebak dalam labirin Afrodit adalah saat kita merasa sepenuhnya lengkap, walau ketersesatan itu kemudian memporak-poranda kelengkapan kita (dan mungkin kita memang ingin tersesat. Bukankah diam-diam manusia menikmati mabuk sekalipun itu buruk). Setidaknya kita tahu bahwa rasa itu murni, bukan alasan dibalik sepi. 

Menjadi bebal dan dungu itu biasa, selama tidak membikin binasa. Lagipula, kita memang harus jatuh sejatuh-jatuhnya cinta suatu hari.
 

     Tentang Bahagia

Subjektivitas adalah unsur pembentuk perspektif. Hitam dan putih tidak pernah menjadi kontras bagi yang lainnya, tapi selalu melebur kelabu. Kelabu itu yang menjadi kabut bagi kita saat memilih hanya satu di persimpangan. Ada anak yang menjerit girang saat kotanya ditiup topan hanya karena berarti sekolah diliburkan, ada wanita bersedu sedan saat menang undian jalan-jalan hanya karena berarti jauh dari pasangan selama sebulan.


Menjadi bahagia bukan berarti tidak pernah bersedih lagi, sebab buana bukan nirwana. Menangislah sesekali, mengumpatlah dengan sengit, biarkan itu menjadi penawar racun untuk kita. Jagad dirajut dengan begitu rapat sehingga benang-benang takdir seringkali tampak kusut, sehingga kita selalu punya pilihan. Tugasmu adalah memilih perspektif yang paling mendamaikan, sekalipun pada jalan paling hitam: bahagia.



Metamorfosa kita masih jauh dari sempurna. Tapi aku selalu ingin tersenyum mengingat dulu kamu masih membandingkan diri dengan wajah-wajah lain diluar sana. Kini, yang kamu bandingkan adalah kamu semenit lalu dengan kamu yang kini. Tugasmu (tugas kita), adalah memastikan perubahan kita selangkah lebih purna esok hari.


Kita bersyukur, untuk besok kita bertempur.

Xo-N

0 komentar:

Post a Comment