Keajaiban

Byôsoku 5 senchimêtoru / 5 Centimetes per Second - an animated film by Makoto Shinkai


Matanya hanya berjarak sejengkal dari mataku. Dengan lekat kedua bola mata coklat itu kutatap, menunggu tanda-tanda ketidakseriusan saat ia menyatakan bahwa keajaiban itu fana. Ia bersikukuh, tak juga kutemukan senyum melengkung di bibirnya yang sewarna daging ikan salmon itu. 

“Bagaimana bisa kamu tidak percaya bahwa keajaiban itu bukan sekedar dongeng biasa?” 

Aku tidak percaya bahwa keajaiban itu benar-benar ada. Keajaiban itu hanya ada di negeri yang dihuni peri-peri kecil dan penyihir berkutil. Ini dunia nyata dan tidak ada yang ajaib di realita. Jadi, betapa lucunya saat ada orang lain yang jauh lebih tidak percaya lagi pada keajaiban dibandingkan aku, malah setengah mati ingin kubuktikan kalau ia keliru. 

Suatu pagi, kami terjaga mendahului Sang Surya untuk menatapnya terbangun. Paru-paruku menjerit kegirangan diberi kesempatan menghirup udara yang muda dan bersih. Tulang-tulangku memprotes karena ditusuk-tusuk rasa dingin yang menggigit. Aku melirik wajahnya yang mulai merona, seperti langit yang juga mulai bewarna. Tidak sepatah kata pun terbentuk dari lidah-lidah kami. Untuk apa? Burung-burung kecil sudah memulai konser harian mereka, kabut sudah turun jadi embun. Ajaib sekali bagaimana setiap pagi saat semburat merah muncul di timur, ada cerita baru yang dimulai. 

“Kalau ini memang keajaiban, kenapa banyak orang masih saja tertinggal di remah-remah mimpi tadi malam?” 

Suatu malam, aku mengajaknya mendaki bebukitan di pinggir kota. Selangkah demi selangkah hingga tubuh lelah dan kami merebah. Langit disolek ribuan bintang dan purnama begitu benderang. Kupaksa ia mengakui keajaiban saat kita menjadi saksi indahnya Sang Malam. Ia tertawa ringan saat kubilang betapa apa yang terhampar luas di hadapan kami begitu ajaib. 

“Apa yang begitu spesial dari kumpulan hidrogen dan helium yang bercahaya? Apa mengapa kamu begitu terpana menatap purnama padahal ia datang setiap bulan, sama seperti jadwal datang bulan-mu?” 

Padahal, bukankah jadwal datang bulan itu juga istimewa? Telur-telur yang gagal dihidupkan meluruh. Benih-benih yang terbunuh, sebelum bahkan mengecap detak jantung. Detak jantung yang kontinyu, darah yang dengan deras mengaliri pipa-pipa kecil yang sulit dilihat mata. Mata, yang menyaksi setiap rinci keajaiban yang tak sengaja mengetuk hati di saat-saat tak terduga. 

Detak jantungku yang memutuskan ini saatnya meningkatkan frekuensi, saat mataku tertambat pada jawaban akan mengapa keajaiban tiba-tiba begitu mudah dimengerti. Saat ketukannya yang tak beralasan membuat desir di hati. 

Betapa keajaiban itu nyata, dan ia begitu sunyi lagi sederhana. 

“Bagaimana bisa kamu tidak percaya pada keajaiban, padahal kamu adalah salah satu bukti keberadaannya?”

0 komentar:

Post a Comment