Bukan Tragedi Langit

Lana Del Rey
Aku tidak pernah sadar bahwa aku sedang sedih. Kadang saat bersedih, kukira aku cuma haus.
Kukira aku cuma lelah.
Kukira aku cuma bosan.
Kukira itu cuma karena langit sedang mendung. Langit yang sedang sedih, bukan aku.
Lalu suatu senja, saat langit tidak abu sendu, melainkan semburat warna darah, seorang teman menghampiri dengan wajah kelabu.
Kemudian dia bercerita tentang kesedihan. Tentang pilu hati dan biru di nadi. Dan kulihat selapis air mata menggenang di jendela jiwanya.
Lalu kulihat tetesan air mata di atas kertas, melunturkan kisah yang kutulis.
Saat itu, aku sadar bahwa aku memelihara sedih. Bahwa hati tak lagi utuh namun menyisa serpih. Selama ini bukan sekedar letih.

Namun, betapa aneh saat aku tidak mau sedih pergi. Aku ingin sedih mengerak saja dalam diri. Aku adalah bulan dan Sedih adalah sinar matahari yang kupinjam setiap malam. Tanpanya, aku mungkin hanya permukaan bopeng tanpa cahaya.

Sedih adalah satu-satunya penghubung antara aku dan kamu. Kamu yang pada suatu waktu adalah  coklat panas di sore dingin bulan Desember. Saat itu, kukira aku telah menyesapmu hingga tetes terakhir, telah mengukirmu hingga dasar terdalam, hingga kukira setiap indra yang kupunya dan setiap syaraf yang saling berbelit di tubuhku telah mengenal setiap jengkal raga dan jiwamu.

Suatu sore saat langit tidak hanya kelabu, tapi juga menangis sendu, kita berpisah jalan. Saat itu, kukira dada sesak dan kalbu retak adalah akibat tragedi langit, yang meraung-raung hingga pagi menumpahkan sakit. Karena kukira, menghapusmu tidak akan membikin pahit. Justru kukira, untuk bebas aku harus menebas rekaman tentang dirimu dengan sabit.

Ternyata itu sakitku sendiri. Bukan sakit karena sulit membuat kepala lupa tentang kamu. Tapi karena betapa mudah satu-persatu bagianmu meninggalkan kepalaku.

Aku terbangun di pagi buta tanpa ingat apa warna matamu.
Aku terjaga di tengah malam berusaha ingat seperti apa suara gelakmu.
Aku menghirup teh saat petang dengan kening berkerut saat sadar aku tidak lagi bisa menggambar senyummu.

Ketika itulah aku merindu Sang Sedih. Aku ketakutan saat Sedih tidak ada di tempat kamu dulu ada. Karena sedih adalah satu-satunya yang menghubungkan aku dan kamu  saat cerita dan memori tak kuasa lagi mengikat kita.

Sedih masih ingat warna matamu, suara gelakmu, bentuk senyummu, tekstur kulitmu, lagu jiwamu. Ia memberitahu aku yang mulai lupa. Ia menjaga potretmu di otakku.

Aku sekarang tahu aku sedih.
Aku senang ditemani Sedih.

0 komentar:

Post a Comment