Seperti Surya

Apollo Ray - Hedi Xandt (2013)



Aku selalu berpikir bahwa matahari kurang mendapat perhatian yang seharusnya. Tentu, aku bukan bicara mengenai ilmu pengetahuan. Ilmu mengagungkan matahari. Pusat. Setiap planet berputar-putar memuja Sang Bola Api, hingga suatu hari baranya padam, planet-planet itu akan berlari-lari keluar orbit, kerasukkan dan tanpa arah. Aku juga tidak bicara mengenai mitologi. Betapa Ra adalah Dewa Agung penguasa langit, bumi, dan dunia bawah. Betapa aku selalu dibuai oleh angan tentang pesona Apollo dengan lira dan puisi-puisi indahnya.

Ini tentang orang yang merasa. Merasa terlalu banyak sehingga hati mereka tak kenal lagi satu persatu rasa itu. Sehingga otak mereka menjadi bebal tak lagi fungsi. Hingga setiap jengkal raga dikuasai emosi. 

Mereka memuja hujan. Memuja tetes-tetes air mata langit seiring dengan larutnya sendu dalam air mata mereka. Mereka mendamba  dingin angin menusuk sumsum, dingin yang membekukan pilu. Angin yang menerpa wajah seiring dengan memori yang menerpa benak. Mereka menghirup harum tanah basah yang sedap, yang menggelitik indra untuk bangkit sekali lagi. Harum nikmat penanda awal siklus, wangi katalis imajinasi. 

Mereka memuja terbitnya rembulan, memuja ratusan kelip bintang dalam pekat. Cahaya perak sang purnama, menerangi sisi gelap jiwa-jiwa. Dimana jiwa-jiwa demikian sekali lagi berani menari-nari telanjang karena tersembunyi dalam hitamnya malam. Jiwa-jiwa yang sekali lagi menceritakan cinta dan rahasia dibalik kabut ketika masa semakin larut. Dimana mimpi-mimpi adalah kenyataan dan yang nyata dilempar dalam lelap. 

Saat awan-awan menyingkir dan memberi jalan matahari untuk menampakkan sinarnya, jiwa-jiwa yang retak serta hati-hati yang luka bersembunyi lagi dibalik senyum. Dibalik keluh kesah tentang peluh. Dibalik apa yang mereka sebut normal. Mereka takut bercerita pada mentari. Takut sinar itu akan menguak duka, menampakkan biru yang mati-matian mereka tutupi. Tak ada yang peduli bahwa sinar itu telah menempuh kesunyian ruang hampa demi mencapai bumi. Tak ada yang peduli bahwa cahaya itulah yang dipinjam bulan sehingga keelokkannya setiap malam mereka puja. Sinar itu, menyengat, menguras keringat, terlalu mengancam.

Dan aku,
Aku jatuh cinta pada surya, menanti sinar keemasan delapan-menit-yang-lalu.
Aku menceritakan pedih lewat suka. Melawan sendu dengan lagu.
Aku ingin menjadi seperti surya. Karena tak ada yang boleh melihat setetes pun air mataku, mereka hanya boleh melihat cahayaku.

0 komentar:

Post a Comment