Somewhere in Neverland



 “Sudah menikah?”

“Ah kau ini. Aku baru lulus tahun kemarin, Lex. Kamu?”

“Belum juga.”

Hening.

“Tapi cincin itu?”

Wendy menurunkan tangannya ke bawah meja. Pandangannya dialihkan ke langit-langit. Pedih membayang di mata coklat bulatnya yang tampak letih. Ia merapikan bahu blazer biru gelapnya yang tidak kusut, menimbang-nimbang sesuatu.

“Tunangan. Yah... dijodohkan”

“Lalu, kamu setuju?”

Sunyi lagi. Isi gelas ditangan Wendy sudah tandas sejak tadi. Kursi tempat ia mendekam berjam-jam mendadak seperti dipenuhi diri. Bergerak-gerak gelisah wanita muda itu, jemarinya mengetuk-ngetuk meja pelan. Ia menghela napas panjang dan menggeleng.

“Kamu lupa? Ah, orangtuaku. Lagaknya menjodoh-jodohkan, hubungan sendiri saja....”

“Ya ya, kamu nggak mau mengulang cerita mereka.”

Senyap.

“Hmm... Gimana kerja? Senang ya, punya uang sendiri sekarang. Bebas.”

Selesa akan pergantian topik, Wendy menyandarkan tubuhnya ke sofa. Melempar senyum khas, lesung pipit muncul di pipi kanannya. Senyum favorit Alex.

“Dulu ingat tidak?”

“Waktu kamu bilang ingin cepat-cepat lulus SMA..”

“Aku bilang ingin cepat-cepat kerja, punya uang sendiri. Bebas beli apa saja, melakukan apa saja...”

“Lalu aku bilang,”Wendy! Orang dewasa itu bikin bingung! Nggak bisa bersenang-senang! Kamu aneh, deh!”

“Lalu aku jadi keras kepala,”Kalau mau kecil terus, pindah sana ke Neverland, Alex!

Sepasang sahabat lama itu menderaikan tawa. Kelebat-kelebat kenangan di masa dulu naik ke permukaan. Seragam putih abu-abu, taman belakang kantin, percakapan-percakapan konyol.

“Ternyata kamu yang benar, Alex”

Alex memandangi wanita di hadapannya. Wendy terpejam, menikmati setiap memori yang muncul kembali. Mensyukuri pertemuan tak sengaja dengan sahabatnya ini.

“Kamu benar. Sekarang aku iri pada Peter Pan. Coba dulu kita betul-betul kabur ke Neverland. Tak ada kerja terpaksa, tak ada calon suami tanpa cinta...”

Kafe kecil itu mulai sepi seiiring pekatnya malam. Malam itu hampir terasa seperti mimpi indah di penghujung hari yang penat. Seperti membaca bab terakhir buku dongeng dengan akhir bahagia. Mereka tahu saat buku selesai dibaca, kenyataan menghantam lagi. Karenanya, diresapinya setiap detik rasa manis itu, menolak untuk menutup buku. Menolak pulang ke rumah masing-masing.

“Wendy, lari saja bersamaku.”

“Lalu bagaimana....”

“Kita tulis sendiri dongeng kita, rancang kenyataan yang kita mau.”

“Tapi...”

“Kita jadi anak-anak hilang di Neverland, terbang di langit malam. Semuanya akan baik-baik saja.”

Senyum Wendy mulai mengembang. Semua akan baik-baik saja. Alex selalu benar selalu tahu.

“Aku jadi pangerannya, kau jadi putrinya.”

“Mereka selalu punya ‘akhir bahagia selamanya’, kan?”

“Tentu saja. Kita juga.” Alex tersenyum, menarik tangan Wendy dalam genggamannya. Saat dongeng berakhir, kau hanya perlu menulis akhir bahagiamu sendiri.

0 komentar:

Post a Comment