Dibalik Penutup Mata Sang Titan


“Maaf, Pak! Tidak lihat itu lampu merah?”

“Maaf, Pak. Saya buru-buru. Jadi gimana, Pak? Tilang?”

“Memangnya bapak mau kemana, sih? Ini bisa dibicarakan baik-baik kok.”

“Saya harus menghadiri sidang, Pak. Mohon surat tilangnya saja.”

“Wah, sidang. Daripada bapak repot bolak-balik sidang, lebih baik...”

Anto menghempaskan tubuh gempalnya ke sandaran jok pengemudi. Sehelai sapu tangan ditarik keluar dari sakunya, menyusul sebuah dompet kulit bewarna hitam. Dibukanya dompet tersebut sembari mengusap peluh di dahinya. Selembar kertas biru, licin, dan tanpa lipatan direnggut keluar begitu saja, dijejalkan pada pria berkumis berseragam yang menunggu dibalik jendela mobil. Pria itu tersenyum ramah berlebihan, memberi hormat hingga terbungkuk-bungkuk. Dibiarkannya sedan perak milik Anto meluncur di jalan raya yang terpanggang teriknya surya.

***

“Hakim sialan!”

“Sabar, Pak Anto. Kita masih bisa banding.”

“Tapi itu semua sudah jelas. Ada perjanjiannya! Pihak lawan yang wanprestasi*!”

“Ya mungkin... Um... Pak Anto tahu sendiri, lah. Mungkin main belakang...”

Rambut Anto yang sudah mulai memutih dijambak-jambakkinya. Dasi hitam dan kemeja kelabunya sudah mulai kusut, semerawut. Si Pengacara cuma berdiri di sudut sambil mengerut, mencuri-curi pandang kearah kliennya yang tengah kalut. Siapa yang tidak murka jika sudah dikhianati, dipersalahkan pula.

“Jadi bagaimana, Pak Anto? Mau banding?”

“Iya! Ini tidak adil namanya!”

“Begini saja, Pak. Agar pasti kita dimenangkan, kita... umm... Yah, negosiasi.”

“Kamu sama saja! Sekolah nggak nerap!”

***

Mentari masih garang, hati Anto masih berang. Tapi lebih baik diluar sini daripada di dalam gedung pengadilan. Pengadilan, katanya. Diadili, sebutannya. Omong kosong.

Telapak tangan Anto mengipas cepat di dekat lehernya, mencoba meniadakan rasa panas. Percuma. Anto menyeret kakinya ke bawah patung besar seorang dewi di halaman pengadilan, mencoba berteduh dibawah naungan bayangannya.

Themis**. Wajah sedingin pualam, ekpspresi sedingin malam. Pedang di tangan kanan Sang Titan seakan siap menebas setiap biadab yang menodai pelanggaran. Timbangan besar di tangan kanannya seperti meyakinkan bahwa semuanya akan mendapatkan keadilan. Tidak ada yang pernah melihat mata Themis. Kedua mata itu tertutupi kain. Hukum itu tidak pandang bulu, buta. Themis tidak pilih kasih.

“Korannya koran koraaaan! Koran, Pak?”

Anto mengalihkan pandangannya dari patung besar Themis ke arah headline koran yang dijajakan. Korupsi. Korupsi lagi. Isi perut Anto bergemuruh tak karuan. Mual. Ingin rasanya memuntahi koran-koran itu. Bukan, memuntahi muka koruptor-koruptor itu.

Themis masih berdiri diam, agung. Begitu inginnya Anto merenggut penutup mata itu. Biar Sang Titan lihat apa yang dilakukan mereka yang seharusnya jadi panutan. Biar ia melihat apa yang dikerjakan oleh mereka yang katanya wakil Tuhan. Hukum tidak memihak, katanya. Objektif, sebutannya. Harusnya Sang Titan melepas kain konyol itu dan melihat.





Keterangan

*wanprestasi: mengingkari kesepakatan/perjanjian.

**Themis: Titan perempuan dalam mitologi Yunani. Dewi keadilan. Disebut Justicia dalam mitologi Romawi

0 komentar:

Post a Comment