Salju Tak Lagi Berarti

Naz duduk diam di sebuah coffee shop kecil yang cantik. Secangkir cokelat panas yang asapnya sudah lama menghilang, tapi belum tersentuh. Naz menatap kosong ke jendela, memandangi orang-orang yang bergegas-gegas di jalanan yang beku. Masih awal tahun, tapi semangat Naz seperti menghilang entah kemana. Padahal ini salju pertama yang dilihatnya. Naz selalu ingin melihat salju, tapi tak pernah disangkanya saat mimpinya terkabul, hatinya sedih luar biasa.
***

Naz memasukki sebuah coffee shop kecil. Minuman apapun yang mengandung coklat akan selalu meringankan kekusutan pikiran. Tidak mudah beradaptasi di negeri orang, padahal ia masih punya beberapa bulan hingga beasiswa yang didapatnya selesai. Diam termenung di sebuah meja dekat jendela, ia tidak memperhatikan gelasnya bertengger terlalu pinggir di meja dan tanpa sengaja tersenggol jatuh. Naz tersentak dari lamunannya dan menatap kesal pada gelas yang kini hancur dan isinya yang terciprat di sneakers converse hitam yang digunakannya.

“Ini, belum kuminum. Buatmu saja.”

Seorang  lelaki, kira-kira sebaya dengan Naz, menghampiri dan langsung duduk dihadapannya. Rambut coklatnya agak berantakan dan poni yang disisirnya kesamping sudah mulai kepanjangan.  Ia menatap Naz dengan sepasang mata besar bewarna coklat yang teduh dan tersenyum, menampakkan lesung pipit di pipi kirinya.

“Kamu suka Muse? Mereka band favoritku!” Kata lelaki itu setelah Naz hanya menatapnya bingung. Naz menunduk memandang t-shirt yang digunakannya hari itu dan melihat foto hitam putih ketiga personil Muse. Naz mendongak, tersenyum, lalu mengangguk.
***

Pintu coffee shop terbuka dan seorang lelaki berambut coklat dan bermata coklat cepat-cepat masuk sambil meniupi tangannya yang terbalut sarung tangan wol dan melepas topi abu-abu berbulu. Pipinya berubah kemerahan karena cuaca dingin tapi senyumnya lebih cerah daripada mentari di musim panas. Ia menghampiri gadis berambut hitam yang sejak awal memperhatikannya.

“Nazheerah! Kenapa kamu...”

“Dimitri... Besok aku pulang ke Indonesia”

“Tapi kamu bilang kamu nggak akan langsung...”

“Karena ini nggak akan berhasil...”
***

Dimitri menghempaskan controller Guitar Hero ke karpet dan duduk cemberut. Naz menari-nari girang sambil membuka tutup spidol khusus wajah dan mulai menggambar anak ayam mungil di wajah Dimitri. Sekarang ada kelinci, kucing, paus, dan anak ayam di wajah lelaki itu, sedangkan di wajah Naz baru ada gambar seekor anjing.

“Hahaha! Aku menang lagi! Eh, aku belum shalat! Tunggu ya, nanti aku menang lagi” Naz tertawa-tawa sambil melangkah ke kamar mandi.

“Setelah kamu shalat kita main Call of Duty saja! Kamu pasti kalah!”

Dimitri masih tersenyum, memandangi jadwal shalat yang didapatnya dari Islamic Academy of Manchester. Ia mencarinya dan menempelnya di samping televisinya sendiri semata-mata untuk Naz. Dimitri sendiri seorang Kristen. Lamunannya melayang. Betapa ia dan Naz begitu cepat akrab. Bagaimana ia menemani Naz mengenal Kota Manchester, menjadi tour guide pribadinya. Bagaimana Naz dan dirinya memiliki banyak pendapat yang sama dan kesukaan yang sama. Bagaimana Naz adalah versi perempuan dari dirinya sendiri sehingga mereka dengan mudahnya bersahabat. Bagaimana ia perlahan-lahan mulai jatuh hati.
***

Senyum cerah Dimitri telah sama sekali menghilang. Sekarang ekspresinya lebih kelabu daripada salju di jalanan luar sana.

“Aku sudah bilang, orangtuaku nggak mungkin setuju. Mereka sama sekali nggak membedakan etnis. Tapi menyangkut agama...”

Dimitri diam saja. Ia tahu. Naz sudah pernah memberitahunya. Ia kira mereka bisa menemukan jalan untuk bisa bersama. Tak peduli Naz pulang ke Indonesia pun, ia akan mengejarnya. Apalah arti jarak Inggris-Indonesia? Tapi ini lebih rumit dari itu.

“Tinggal saja disini. Jangan pulang selamanya.”

Naz hanya diam, memandang Dimitri dengan sorot pedih. Dimitri mengenal gadis itu terlalu baik. Ia gadis yang tidak melulu mengandalkan hati. Gadis yang beriman dan jelas tak akan mau pindah agama begitu saja. Ia juga tak mau Dimitri pindah agama hanya karena dirinya dan bukan karena Tuhan. Dimitri tidak marah. Ia tahu Naz bukan tidak mencintainya. Memandang Naz seperti memandang cermin. Begitu serupa tapi saat Ia mengangkat tangan kanan, bayangan di cermin akan mengangkat tangan kiri.
***

Naz terbangun kaget. Pandangannya jatuh ke jendela. Dilihatnya matahari nyaris terbit, mulai menerangi Kota Manchester dan ia ada di kamar Dimitri. Takut-takut diliriknya tempat kosong di ranjang, bersiap mengalami shock kalau-kalau Dimitri ada disana. Kosong. Naz menghela napas lega. Ia keluar dari kamar dan menemukan Dimitri masih tertidur, tengkurap di sofa sambil memeluk boneka Pikachu. Tugas kuliah Naz sudah rapi di atas meja. Pasti tadi malam saat Naz berusaha menyelesaikan tugasnya dengan Dimitri membantunya, dirinya jatuh tertidur kelelahan dan Dimitri memindahkannya ke kamar.

Tersenyum, ia memandangi bulu mata coklat Dimitri yang masih lelap. Ia tahu, dulu Dimitri tidur saja disamping kekasihnya tanpa harus mengorbankan diri tidur di sofa.  Naz tidak marah, karena itu jelas biasa saja disini. Namun sekarang, Dimitri sangat menghargai Naz dan segala komitmennya. Sambil beranjak membuat dua cangkir teh, Naz teringat bagaimana ia pertama bertemu Dimitri. Mengingat bagaimana mereka disatukan berbagai macam persamaan. Mengingat dirinya belum pernah menemukan seseorang yang tertawa akan selera humornya yang unik. Mengingat pada Dimitri-lah iya merasakan cinta yang sesungguhnya.
***

Salju turun lebih banyak, tapi Naz sudah sama sekali lupa akan keinginannya melihat salju.  Jiwa dan raganya sepenuhnya fokus pada Dimitri yang sekarang hanya diam menunduk. Entah berapa lama berlalu hingga akhirnya Dimitri seperti meruntuhkan pertahanannya. Seperti mengibarkan bendera putih. Tangannya merogoh kedalam saku dan mengeluarkan boneka Winnie The Pooh kecil. Kesukaan Naz. Diciumnya boneka itu sekali dan diberikannya pada Naz.

“Nazheerah, jangan lupa aku. Jangan pernah. Aku tak akan pernah menemukan dirimu yang lain.”

Naz bangkit dari kursinya dan pindah kesebelah Dimitri. Memeluk cintanya, membiarkan pertahanannya runtuh, membiarkan butir-butir air mata turun ke pipinya, membasahi dada Dimitri. Membiarkan menit-menit berlalu, berharap saat itu akan bertahan selamanya.

Tapi mentari menggelincir ke barat dengan cepat, apalagi di musim dingin. Akhirnya mereka harus meninggalkan coffee shop bersejarah itu. Berjalan cepat diatas salju, meninggalkan jejak-jejak sepatu. Dimitri mengantar Naz hingga pintu kamarnya dan berjanji akan menemani Naz ke bandara besok.

Naz merebahkan diri di ranjangnya. Memandangi salju pertama dan mungkin salju terakhirnya di Manchester sambil menggenggam boneka Winnie The Pooh pemberian Dimitri. Ditekannya perut boneka mungil itu dan sebuah lagu mulai mengalun.

“I have nothing left to lose

You took your time to choose

Then we told each other

With no trace of fear that...

Our love would be forever

And if we die

We die together

And lie, I said never

'Cause our love would be forever”

[Neutron Star Collision (Love is Forever) – Muse]

1 komentar: