Terasa Seperti Tersesat

Si Gadis Berambut Merah menatap jalan panjang di hadapannya. Ia tahu Ia ingin kemana, tapi rasanya salah. Rasanya salah, padahal Ia ada di jalan yang benar. Tidak juga. Ia tidak tahu apakah ini jalan yang benar atau bukan. Namun Ia terus berjalan. Pelan-pelan sendirian.

Sesaat Ia berhenti. Tidak. Ia berhenti berkali-kali. Ia memalingkan wajah ke jalan dibelakangnya, yang telah dilewatinya. Jalan yang dulu, saat Ia berjalan menyusurinya, sangat dibencinya. Ingin cepat-cepat dilewati. Namun kini, Ia ingin berlari kebelakang. Ingin melewati jalan itu sekali lagi. Ia takut akan jalan panjang di hadapannya. Gelap dan asing. Dan sekali lagi, terasa salah. Terasa salah padahal Ia tidak tahu mana yang bisa lebih baik dari jalan yang satu ini.

Si Gadis Berambut Merah terdiam lama di tengah jalan. Atau sesekali berjalan mundur dengan punggung menghadap jalanan gelap itu. Ia tahu Ia harus terus melangkah ke depan. Ia tahu kegelapan itu akan semakin pudar. Tapi Ia terlalu takut. Sangat takut. Ia takut jika ternyata jalan itu salah, walaupun nantinya Ia tidak jatuh ke jurang, namun Ia ada di puncak yang salah. Dan Ia akan dihantui bayangan akan puncak yang seharusnya Ia gapai. Kosong. Itulah mengapa, Ia berjalan mundur. Membiarkan kelebatan-kelebatan kenangan di jalan penuh cahaya dan keceriaan dibelakangnya menemaninya. Sebagai pegangannya.

Si Gadis Berambut Merah tahu. Ia tidak boleh berhenti. Ia akan terus berjalan, atau setidaknya, akan terus mencoba berjalan. Sekalipun jalannya mundur, punggungnya tak akan pernah menghadap jalan yang terang. Ia hanya takut melihat kegelapan. Dan Ia tahu kekuatannya ada di belakang. Hanya dengan menatapnya, Ia akan terus mencoba maju. Tak akan Ia berhenti atau kembali. Ia harus maju.

1 komentar:

  1. keren..,
    malem-malem berkunjung pasti yang punya sedang terlelap

    ReplyDelete