Tidak Lebih Baik

Kumainkan Angry Birds di iTouch-ku setengah hati. Ya, aku ingin punya iTouch sejak lama, namun tak pernah kukira saat kulihat kantong berlambang Apple di kamarku aku tak akan tersenyum. Asap teh madu panas favoritku sudah lama melayang, namun aku belum juga menyentuhkan cangkir di bibirku. Setelah kalah beberapa kali, aku menyerah dan berbalik ke menu musik. Sekejap saja iTouch-ku sudah menyenandungkan suara David Archuleta.

Helaan nafasku memecah keheningan. Hari ini genap tiga tahun sejak aku didiagnosis gagal ginjal. Tiga tahun sudah umur iTouch yang dibelikan orang tuaku sebagai penghibur agar aku tegar menghadapi cobaan ini. Sudah selama itu namun belum juga ada donor yang menghampiri, dializer masih harus dihubungkan ke tubuhku 4 kali dalam seminggu, masing-masing 6 jam. Jadi anggaplah aku membusuk di rumah sakit ini.

Decitan pintu membuatku tersentak, namun orang yang berdiri dibelakang pintu membuatku tersenyum. Kakak laki-lakiku, Hector, menerobos masuk. Seperti biasa, senyumnya membuat matahari malu, rambut coklat gelapnya masih tetap acak-acakkan. Kak Hector-lah yang membuat proses hemodialisis ini tetat menyenangkan. Cuma dia yang masih bisa mencetuskan lelucon tentang gagal ginjal saat aku didiagnosis. Mungkin itu sesuai dengan namanya yang berarti tabah.

“Helonia! Apa tuh cemberut ajaa… cerah gini.. nih kakak bawa film!”

Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules” Setiap kali hemodialisis, Kak Hector suka membawa macam-macam film. Ia menjauhkan semua drama penguras air mata yang dulu jadi kesukaanku dan membawakan film-film komedi, bahkan horor sebelum akhirnya ditegur suster. Katanya, aku sudah terlalu banyak menangis. Semua orang yang ada di ruang hemodialisis selalu menunggu-nunggu kedatangan Kak Hector. Gara-gara kakakku itulah ruangan suram ini jadi ceria.

Hari ini kebetulan hanya aku sendiri yang dicuci darah. Jadi, aku menonton film itu berdua dengan kak Hector saja. Setelah berjam-jam frustasi aku akhirnya bisa tertawa lagi. Film itu juga membuatku bersyukur. Bersyukur karena Kak Hector baik sekali pada adiknya, tidak seperti Rodrick.

***

Seisi ruangan hemodialisis bersorak gembira. Alvin, salah satu teman seperjuanganku akhirnya mendapat donor ginjal. Berarti, Alvin akan meninggalkan penjara membosankan ini dan aku akan kehilangan teman ngobrol. Padahal Alvin-lah yang paking dekat denganku. Sebenarnya, aku bisa saja dapat donor dari kemarin dulu. Kak Hector punya ginjal yang cocok sekali dengan milikku, tapi aku tak mengizinkannya mendonor. Lebih baik dicuci darah bertahun-tahun daripada menerima resiko aneh-aneh. Daripada membiarkan kakakku punya satu ginjal gara-gara aku.

“Tenang, tenang… semua akan dapat bagian! Antri-antri! Lagian kalo cepet-cepet pergi dari sini nanti kangen,lho, sama aku!” Kak Hector menghibur seisi ruangan saat Alvin pergi dan wajah-wajah penderita gagal ginjal ini mulai tampak air muka irinya.

“Ya… ya… Berarti jika Helonia dapat donor, kita semua juga harus dapat lho! Kan, kamu nggak kesini lagi, Hector!” Canda nenek disebelah tempat dudukku.

Berbulan-bulan setelah Alvin dapat donor, belum ada lagi yang seberuntung itu. Aku juga sudah malas berharap. Apa bedanya berbulan-bulan setelah tiga tahun? Alvin saja baru dapat donor di tahun keempatnya. Dan hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, aku terkurung di ruang hemodialisis dengan dializer terhubung ke tubuhku. Baru lima jam, masih ada satu jam lagi. Masih ada beribu-ribu jam lagi di kemudian hari. Teman-teman seperjuangan sudah kehabisan obrolan dan berakhir tenggelam dalam novel, koran, atau ponsel masing-masing. Satu lagi yang menyebalkan, Kak Hector belum juga datang.

Pintu dibuka dengan tiba-tiba membuat setiap kepala mendongak dengan penasaran, berharap ada berita baik yang akan disampaikan.

“Helonia, kamu… dapat donor!” Sang suster tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Tepukkan tangan terdengar di seisi ruangan. Aku tak bisa membendung kegembiraanku. Apakah ayah dan ibu sudah tahu? Apakah Kak Hector sudah tahu? Aaah, mana Kak Hector? Harusnya Ia disini dan bersorak bersamaku. Bahkan mungkin Ia sudah melompat-lompat kegirangan.

Ayah dan ibuku masuk ruangan. Aku segera mengoceh panjang lebar mengungkapkan betapa bahagianya aku. Tidak kusadari wajah orang-tuaku tak sebahagia aku. Ibu langsung memelukku dan berbisik,”Kak Hector kecelakaan, sebelum pergi Ia pesan agar ginjalnya diberikan padamu.”

0 komentar:

Post a Comment